Kamis, 25 Februari 2010

Musibah malam itu...

Setiba dari kedatangan saya di Banjarbaru Selasa, 23 February 2010, tepatnya pukul 10 malam waktu Kalimantan Selatan di Bandara Syamsudin Noor, travel yang akan membawa saya ke Kotabaru malam itu telah menunggu, Bus Melati Eksekutif kendaraan yang membawa saya meneruskan perjalanan menuju Kotabaru, sebuah kota dmana saya bekerja.

Malam itu terasa biasa-biasa saja, saya yang menempati kursi no.1 beserta seseorang disamping saya yang sedang tertidur pulas dengan AC yang begitu sejuk, ditambah empuknya tempat duduk serta kondisi jalan yang baik. Membuat diri saya untuk beristirahat, menunggu setibanya Bus akan berhenti untuk makan malam.Tak lama berselang saya terbangun,Bus sudah berhenti di sebuah warung tempat makan saya bergegas turun dari bus untuk menuju toilet, sembari penumpang yang lainnya sedang menikmati makan malamnya.

Setelah saya dan para penumpang selesai menyantap makan malam. Terlihat supir bus yang tengah menyalakan mesin, tanda perjalan akan dilanjutkan. Saya beserta para penumpang lainnya sesegera mungkin menuju bus dan menempati tempat duduk masing-masing.

Irama musik menemani kami di perjalan sesaat menyantap makan malam. Dengan perut yang lumayan kenyang rupanya membuat saya ingi kembali tidur beristirahat menunggu tibanya saya di Batulicin.

Namun, dalam tidur saya yang pulas terdengar suara benturan yang begitu keras. Sesaat saya membuka mata, tiba-tiba saya telah berada tidak ditempat, dmna saya tertidur pulas tadinya, saya rasa saat itu cuma mimpi, namun setelah saya melihat darah segar yang mengalir dari tangan saya, barusaya menyadari bahwa saat itu saya sedang tidak bermimpi.

Kemudian saya berpaling kebelakang, ternyata bus yang saya tumpangi saat itu telah mengalami kecelakaan, bus dalam keadaan terbalik. Kemudian saya melihat kaca depan bus yang pecah bagaikan kristal-kristal yang berserakan. Saat itu supir bus mencoba keluar melalui kaca depan bus, sambil memegang kepalanya yang berlumuran darah dengan tangan kanannya, berjalan terpingkal-pingkal sambil berkata menyapa saya "Adik tidak apa-apa ?". Saya menjawab dengan kepala menganguk. Setelah itu supir mulai membangunkan penumpang lainnya yang saat itu pada pingsan.

Saat itu saya berpikir, saat kejadian saya terlempar kekaca depan bus dan terhempas keluar dari bus. Setelah itu saya mencoba untuk mencuci dan membersihkan luka tangan saya dengan air aQua yang berada dekat kaki saya saat itu.

_Besambung_

Senin, 15 Februari 2010

Bunda


Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:

Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.

Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”

======
sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih sepanjang Salatiga – Roma? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….

Sahabat, kita beruntung masih diberi kesempatan untuk mencium tangannya, mencium pipinya, memijit kakinya, membuatkan minuman untuknya dan menunjukkan sayang kita kepadanya. semoga kita dapat terus melayani beliau, di dunia ini, maupun di surga nanti. amin…
<

Kita atau Anak Jalanan



Pernahkan terlintas di pikiran Anda, Lebih hebat manakah kita dengan anak jalanan / pengamen? Apakah kita yang lebih hebat? Bagi Anda yang menjawab demikian Anda SALAH BESAR …tahukah apa yang membuat comment kita tersebut salah?

Mungkin bila kita melihat orang jalanan / pengamen yang selalu yang ada di benak kita adalah anak kita yang kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan /pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya? Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk 1 tujuan yaitu mencari uang untuk hidup 1 hari. walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita? Kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punyai saat ini. Sekarang lebih hebat manakah ?kita atu anak jalanan?